Rabu, 26 Desember 2012
Senin, 17 Desember 2012
The right man in the right time
Seems like this time, again..
I gave my heart to the wrong man.
Well, maybe he is the right one, that I met at the wrong time.
So, whose fault is it? The man? The time?
Anyway, I believe that if he's the right one, then he will come at the right time.
Whoever he is.
Whatever it is.
I have no ability to rush God, unfortunately.
I gave my heart to the wrong man.
Well, maybe he is the right one, that I met at the wrong time.
So, whose fault is it? The man? The time?
Anyway, I believe that if he's the right one, then he will come at the right time.
Whoever he is.
Whatever it is.
I have no ability to rush God, unfortunately.
Selasa, 11 Desember 2012
PARIS & JULIET
Mengisahkan sepasang mempelai muda yang saling jatuh cinta, namun terhalang karena kedua keluarga mereka saling bermusuhan. Siapa yang tidak tahu tentang kisah romantis ini?
Aku bertanya-tanya dalam hati, apa yang Juliet lakukan seandainya Romeo meninggalkannya, bukan karena dilarang menemuinya, tapi karena kehilangan minat? Bagaimana seandainya Romeo lebih mencintai keluarganya dan berubah pikiran untuk memberikan kesempatan kepada teman adiknya, Rosalind? Bagaimana seandainya, alih-alih mengatakan yang sebenarnya kepada Juliet, Romeo justru menghilang?
Aku bertanya-tanya apakah akhirnya Juliet juga akan menikah dengan Paris, hanya untuk membahagiakan orang tuanya, demi menjaga ketenangan. Tapi kisah itu memang tidak banyak bercerita tentang Paris.
Bagaimana seandainya peran Paris lebih dari itu?
Bagaimana seandainya Paris benar-benar mencintai Juliet dan ingin agar ia bahagia? Menunggunya selama bertahun-tahun? Bagaimana seandainya Paris satu-satunya orang yang benar-benar memahami Juliet dan membuatnya merasa sangat diinginkan? Bagaimana seandainya Paris itu sabar dan baik? Menjaganya baik-baik? Bagaimana seandainya Juliet tahu ia tak mungkin bisa bertahan tanpa Paris?
Dan... bagaimana bila Juliet mencintai Paris?
Tidak sebesar cintanya pada Romeo, tapi cukup sampai Juliet ingin agar Paris bahagia juga?
Romeo benar-benar pergi, tak pernah kembali lagi, adakah bedanya seandainya Juliet menerima tawaran Paris atau tidak? Mungkin sebaiknya Juliet mencoba mengais kembali kepingan-kepingan hidupnya yang masih tersisa. Mungkin itulah yang paling mendekati kebahagiaan yang bisa di raihnya.
Aaahh,, kemudian aku tersadar dari lamunanku. Juliet yang di campakkan oleh Romeo 'pengecut' tidak akan pernah menjadi hit jika jalan ceritanya seperti ini..
Tapi jika memang ada cerita ini, sungguh, ingin rasanya berterima kasih kepada Paris.
Terima kasih karena membuatnya merasa begitu diinginkan.
And I dedicate it to you, Paris.
Senin, 03 Desember 2012
KAMBING HITAM
Masalah rasa adalah masalah pembenaran, karena rasa tidak pernah bohong.
Berlaku untuk rasaku padamu pada malam itu, yang menjadikannya kambing hitam atas kepergian mu.
Berkelitlah jika memang itu hanya perasaan ku yang salah.
Karna kenyataan yang ada membuktikan kebersamaan mu dengannya hari ini.
Berbangga hatilah telah membuatku menangis.
Karna setiap air mata yang tercurah, Tuhan punya balasannya.
Berlaku untuk rasaku padamu pada malam itu, yang menjadikannya kambing hitam atas kepergian mu.
Berkelitlah jika memang itu hanya perasaan ku yang salah.
Karna kenyataan yang ada membuktikan kebersamaan mu dengannya hari ini.
Berbangga hatilah telah membuatku menangis.
Karna setiap air mata yang tercurah, Tuhan punya balasannya.
Minggu, 02 Desember 2012
Rasa
Kekasih akan menjadi orang yang terkasih selama kita masih mengasihinya, walau mungkin dia, sudah pergi dan tidak lagi mengasihi kita.
Ah tapi tunggu...
Menjilat ludah sendiri rasanya tidak pernah sepahit ini..
Pahit.. Sungguh...
Jumat, 30 November 2012
a cup of tea
Malam itu adalah malam terakhir pertemuanku dengannya. "Kita tidak dapat bersama lagi, hatiku telah membeku untukkmu", katanya. I didn't prepare for this.. Ingin sekali menyelamatkan hatinya yang beku itu.
Hujan deras membuatnya terpaksa untuk menunda kepulangannya. Angin dingin seolah menyentuh kulitku meski kita berada di dalam ruang tamuku yang hangat. Kubuatkan dia segelas teh hangat untuk menghangatkan tubuhnya dari udara dingin.
Terdengar suara lengkingan setelah ia meminumnya. Kuperhatikan dengan seksama, pastilah sekarang tubuhnya sudah hangat, pastilah hatinya pun sudah 'meleleh' karena teh hangat buatanku yang telah kucampur dengan air keras.
Perlahan lengkingannya memudar dan ia memejamkan matanya, tertidur di sofa ruang tamuku. Ku peluk kekasihku dengan penuh cinta. Senyum bahagia kini karena hatinya, tubuhnya milikku sekarang. Selamanya.

(Fiksi)
Hujan deras membuatnya terpaksa untuk menunda kepulangannya. Angin dingin seolah menyentuh kulitku meski kita berada di dalam ruang tamuku yang hangat. Kubuatkan dia segelas teh hangat untuk menghangatkan tubuhnya dari udara dingin.
Terdengar suara lengkingan setelah ia meminumnya. Kuperhatikan dengan seksama, pastilah sekarang tubuhnya sudah hangat, pastilah hatinya pun sudah 'meleleh' karena teh hangat buatanku yang telah kucampur dengan air keras.
Perlahan lengkingannya memudar dan ia memejamkan matanya, tertidur di sofa ruang tamuku. Ku peluk kekasihku dengan penuh cinta. Senyum bahagia kini karena hatinya, tubuhnya milikku sekarang. Selamanya.

(Fiksi)
Rabu, 28 November 2012
Terima Kasih
Ketika kata "terima kasih" menjadi kata yang sulit untuk diucapkan.Heran aja akhir-akhir ini saya sering sekali mendapati orang-orang yang lupa (atau mungkin sengaja ga bilang) untuk mengucapkan terima kasih.
Ada yang bilang, "yah, ngapain sih formal-formal amat pake 'makasih' sama temen atau sodara sendiri?"
Ya ga salah juga sih..
Banyak juga yang bilang "ngapain bilang makasih kalo cuman basa-basi doank?"
Ya ini juga ga salah sih...
Tapi menurut saya dengan bilang "makasih", kita nunjukkin bahwa kita 'ngeh' sama sesuatu yang orang lakukan. Dan dihargai itu rasanya menyenangkan.
Ga perlu nunggu seseorang yang super baik dulu kan baru kita bilang 'makasih'? Saya rasa perlakuan baik sekecil apapun dari siapapun dan berupa apapun itu, layak untuk mendapatkan kata terima kasih.
Di-'terimakasihin'-in itu bukan karna gila hormat kok, tapi lebih ke perasaan dihargai effort dan eksistensinya.
Please change your point of view.
Terima kasih karna sudah mampir ke blog saya ^_^
Kamis, 15 November 2012
Crying Me a River
Crying Me a River - Justin Timberlake
Bukan mau memposting lirik lagu si Justin Timberlake ini kok, cuma lagi denger aja, ternyata ini lagu udah 10 tahun yang lalu, dan masih enak banget untuk di denger.
Everything's moving fast...
Ya ga sih? Semua berlari, mungkin cuma saya yang tetap ingin berada disini, mencoba untuk menghentikan waktu, menikmati setiap detik yang tersisa, seolah Tuhan mentakdirkan kita untuk selamanya.
Muncul pertanyaan di benak saya selama hampir sebulan ini,
What would you do if u know someone whom you love dearly only have limited time to spend with before they left forever?
"Lebay ueeyy!" Sepintas memang terdengar berlebihan karena sebenarnya ini bukan menyangkut kematian.
Yaaahh,, terlepas lebay atau ngga (pasti lebay sih haha), sebenarnya ini tentang sebuah perasaan.
Perasaan yang sama yang dulu sempat saya rasa pernah ada sekali dalam hidup, dan itu udah lama banget, mungkin bertahun-tahun yang lalu.
Rasa ingin memiliki seseorang dengan sangat dan entah-harus-dengan-cara-apalagi-menjabarkan-maknanya.
I alredy knew it will hurt in the end, but I still want it anyway.. foolish.. :D
Seperti belum siap untuk kehilangan yang sebenarnya ga akan pernah siap, seperti pertanyaan selalu saya pertanyakan kepada Tuhan, dan saya percaya..
Saat aku tak melihat jalanmu, saat aku tak mengerti rencanamu, namun pengharapanku hanya padamu Tuhan.
Teringat cerita berilustrasi sederhana dan sangat menyentuh karangan Shel Silverstein, The Missing Pieces Meets The Big O. Menurut Shel dalam cerita itu, tidak pernah ada tempat atau pasangan yang benar-benar sempurna untuk seseorang. Yang ada adalah kita sendiri yang mengusahakan dengan bertumbuh bersama. Dalam hal ini, mungkin bagaimana saya menyesuaikan diri dan bisa berjalan beriringan dengan siapapun atau apapun yang telah mereka pilihkan untuk saya.
Pedih itu pasti..
Tapi mau atau tidak, suka atau tidak suka, saya hanya HARUS.
Senin, 12 November 2012
Affogato Brownie
Semalam saya kebetulan kumpul sama temen-temen di Kopi Luwak. Niatnya sih mau ngopi-ngopi (yaiyalah masa mau numpang tidur?), tapi kalo cuma sekedar pesen Espresso atau Cappuccino mungkin udah biasa banget. Malem itu rasanya mau nyobain yang beda dari biasanya. Kita pergi bertiga kesana, yang satu memesan Mango Smoothie, yang satunya lagi memesan Affogato Brownie.
Pikir saya "nah ini, saya belum pernah coba", dengan segenap rasa kepo, akhirnya ikut-ikutan pesen deh.
Setelah ikut-ikutan pesen menu yang sama, yang katanya si temen sih enak banget, rasanya jadi pengen ngasi review (ngasal) tentang minuman yang satu ini.
Namanya Affogato Brownie. Harganya Rp 62.000. Begitu si pelayan dateng, si mbaknya menaruh 2 gelas. satu gelas yang berisi brownies dan es krim vanilla, satu gelas lagi yang ukurannya lebih kecil berisi Espresso.
Cara minumnya adalah dengan cara menuangkan semua espresso ke dalam gelas yang berisi es krim dan brownies itu, kemudian tunggu sampai si espresso nge-blend alias nyerep ke browniesnya, baru deh bisa kita nikmatin.
Sayangnya ada sedikit keganjilan di minuman ini yang entah kenapa masuk ke dalam menu minuman. Pertama ini harusnya masuk ke dalam menu makanan lowh.. jelas ga bisa di minum sebagaimana layaknya minuman yang bisa diminum untuk menghilangkan dahaga, atau untuk sekedar dinikmati dengan menggunakan sedotan.
Kedua, mungkin untuk suapan pertama rasanya enak, tapi lama kelamaan rasanya jadi giung (begitu sebutan saya untuk sesuatu yang rasanya terlalu manis). Ahkirnya si affogato brownie ini cuma saya habiskan setengah.
Jadi kesan saya untuk menu yang satu ini...Yah, lumayan lah untuk eksparimen pertama kali, apalagi kalo besok-besok ada yang mau traktir, ga nolak juga sih.. :p
Pikir saya "nah ini, saya belum pernah coba", dengan segenap rasa kepo, akhirnya ikut-ikutan pesen deh.
Namanya Affogato Brownie. Harganya Rp 62.000. Begitu si pelayan dateng, si mbaknya menaruh 2 gelas. satu gelas yang berisi brownies dan es krim vanilla, satu gelas lagi yang ukurannya lebih kecil berisi Espresso.
Cara minumnya adalah dengan cara menuangkan semua espresso ke dalam gelas yang berisi es krim dan brownies itu, kemudian tunggu sampai si espresso nge-blend alias nyerep ke browniesnya, baru deh bisa kita nikmatin.
Sayangnya ada sedikit keganjilan di minuman ini yang entah kenapa masuk ke dalam menu minuman. Pertama ini harusnya masuk ke dalam menu makanan lowh.. jelas ga bisa di minum sebagaimana layaknya minuman yang bisa diminum untuk menghilangkan dahaga, atau untuk sekedar dinikmati dengan menggunakan sedotan.
Kedua, mungkin untuk suapan pertama rasanya enak, tapi lama kelamaan rasanya jadi giung (begitu sebutan saya untuk sesuatu yang rasanya terlalu manis). Ahkirnya si affogato brownie ini cuma saya habiskan setengah.
Jadi kesan saya untuk menu yang satu ini...Yah, lumayan lah untuk eksparimen pertama kali, apalagi kalo besok-besok ada yang mau traktir, ga nolak juga sih.. :p
Rabu, 17 Oktober 2012
Breeze so perfect
Why is the sky so much more blue?
Why is the breeze so perfect today?
Why is the breeze so perfect today?
Pretending like I don’t know
Pretending like I don't care
Like I didn’t hear a thing, like I erased it
Like I didn’t hear a thing, like I erased it
The words I have never said
The words you've never listened
The words I didn’t know I’d say as I cried
The words I didn’t know I’d say as I cried
Should we kiss so I shouldn't say anything?
At the end the words left unspoken
Foolish..
Selasa, 16 Oktober 2012
Teori Vs Praktek
Dari kecil kita
pasti selalu diajarkan sama yang namanya tolong-menolong antar umat manusia. Gwe
pun diajarin teori bahwa kita sebisa mungkin menolong orang lain yang sedang kesusahan, baik itu material maupun
immaterial mengingat setiap insan manusia punya masalah sendiri-sendiri dan
berbeda-beda. Diketahui oleh publik ataupun tidak, itu adalah pilihan bagi tiap
orang untuk masalahnya dibuka ke dunia atau menggumulkannya sendiri. Bukan
begitu?
Sekadar refleksi,
teori memang diketahui, tapi butuh praktik agar dapat dimengerti dengan hati.
In this case, I’m tired to help you in order to
help her.
Awalnya, nolong ”kamu”
itu sama rasanya kayak seorang kakak yang baik hati yang sayang sama adeknya. I help you for the same reasons you help her.
Yang pada akhirnya bikin gwe cape
sendiri cuz in the end, the hardwork won’t be
followed by reward.
Gwe bukan tipe gila hormat yang harus bales budi atas apa yang
gwe lakuin, apalagi yang gwe lakuin juga bukan something WOW gitu. Tp plis dweh.. say thanx sekali aja ga
ada gitu?
Puncaknya waktu si ”dia” gagal atas usaha yang udah kita
usahakan, dan gwe ikut disalahakan. Oh haloooooo!!! It’s not my bussiness however. Antara mau maki-maki versus sabar tak berbatas itu
berat banget loh, sumpah! Dengan kekuatan bulan akhirnya gwe diem aja (kurang
baik apa coba?). Cukup kali yah, rasanya ini sudah melebihi kapasitas yang
seharusnya gwe kasi. Ternyata merefleksikan sebuah teori ke dalam praktik ga
semudah yang diajarin sama bu guru jaman gwe masih sekolah dulu.
Terus si “dia” nangis-nangis, terus si “dia” jadi sedih.
Terus salah gwe gitu? Terus gwe musti bilang WOW gitu?? (_ _”)
Salah gwe kenapa si “dia” terlahir manja banget sampe
akhirnya ngerepotin orang banyak.
Terus ini intinya apa ya -__-
Terus terang ada
rasa iri sama si “dia”
All the place I needed
to be...she was there instead.
Hahah,, yang ini
kalo di certain makin panjang isinya. Segini dulu deh, besok kalo ga sibuk
(atau sok sibuk) coba ketik-ketik lagi.
Jumat, 20 Januari 2012
MALAIKAT (?)
Sosok malaikat yang tak rupawan
Malaikat yang (bahkan) mampu membuat mamaku jatuh hati
Malaikat yang selama hampir 4 tahun menghujaniku dengan cinta
Aku hanya belum bisa melihatnya, paling tidak dengan mata hati
Aku masih belum mengerti kenapa harus kamu (?)
Mungkin nanti
Mungkin kelak aku juga punya cinta sendiri untukmu
Siapa yang tahu? Hidup tidak menjanjikan apapun bagi siapapun.
-aku si manusia yang rakus-
Langganan:
Postingan (Atom)




