Minggu, 17 Februari 2019




Katanya, obat kangen itu ketemu. 
Salah besar. 
Setelah ketemu malah sakit kangen akan makin parah. 
Seharusnya yang selalu saling kangen selalu bersama, baru bisa sembuh. 
Tapi jika tidak bisa saling, maka lebih baik tidak sama sekali.






Aku takut merindu

Selasa, 12 Februari 2019

Family Group Chat

Minggu kemarin papaku nanya apakah aku keberatan kalo di - add lagi ke grup WhatsApp keluarga. Aku menolak. Not because I am sombong atau gamau bergaul sama yang lain atau apapun itu. (Apalah akutuu, cuma remah-remah rempeyek diatas meja warteg) I have nothing to sombong about, anyway, but I get more selective. 
I am not interested to communicate in a regular basis with people I dont feel connected with (meski pun kami punya hubungan darah sekian persen) - mengingat aku pun bahkan tidak tumbuh besar bersama beliau (read: papa).
I am only close to 1-2 cousins, and the relationship I have with the rest of them is simply basa-basi. I am a bad basa-basier.
Sebegitunya aku mem-filter pergaulanku, online and offline. Dengan teman, mau pun keluarga. I have no energy to cater any drama (kuperkirakan itu pasti terjadi, cepat atau lambat), apalagi family drama.
So don't give me wrong dad...  




Papa yg sudah naik pangkat jadi Opa

Minggu, 03 Februari 2019

Untitled




Mungkin memang tidak semua rasa harus diberi nama, karena rasa itu bukan manusia atau jalan yang memang harus diberi nama agar tidak salah sebut, tidak salah tujuan.

Dan rasa itu memang terlalu rumit untuk diberi nama. Seperti cinta, misalnya. Setiap orang punya pengertiannya sendiri tentang cinta. 

Semuanya benar, semuanya salah - tergantung siapa yang mengatakan, apa latar belakang orang itu, dan dari sudut pandang yang mana.

Juga rasa ini. Atau rasa yang itu.

Lalu ada kalanya kita memberi nama suatu rasa, dan ternyata kita memberi nama yang salah. Karena ada rasa yang dapat dirasakan sendiri, dan ada rasa yang sebaiknya dirasakan oleh dua orang. Dan yang terakhir itu kadang diberi nama yang berbeda oleh keduanya. Yang satu bisa saja menamakannya “cinta”, tapi yang satu lagi mungkin hanya memberinya nama “suka”. Atau yang satu memberinya nama “nyaman”, yang satu lagi memberi nama “kesepian”.

Kurang lebih seperti itu.

Jadi, apalah arti sebuah nama jika hanya untuk memberi label ke sebuah rasa yang diartikan berbeda-beda oleh pihak yang merasakannya? Atau bahkan oleh pihak yang bahkan tidak pernah memikirkan tentang rasa itu sendiri?

Ini memang rumit. Tidak semudah seperti menghilangkan komedo di hidungmu, walaupun keduanya sama-sama mengeluarkan air mata.


Bila memang, ku yang harus mengerti:
Mengapa cintamu tak dapat ku miliki?
Salahkah ku bila:
Kau lah yang ada di hatiku?