Pengakuan ternyata jadi salah satu hal yang sulit didapatkan, selain ketulusan. Bukan hanya soal status, tapi banyak hal lainnya yang bersinggungan dengan nurani yang tidak mungkin bisa dipaksakan. Bukti di atas kertas memang bukti otentik, tapi pengakuan terdalam tidak selalu tercetak rapi di atas kertas.
Yang tahu apa dan siapa yang kita akui hanya nurani, dan yang bisa membaca nurani hanya Tuhan. Ada sebuah ruang rahasia yang tidak bisa dimasuki oleh apa dan siapa pun, kecuali nurani kita dan Tuhan.
Dan biasanya, “pemilihan” itu dibuat berdasarkan favorit -:sesuatu yang sampai hari ini belum perlu untuk dibuatkan aktenya.
Dan biasanya, “pemilihan” itu dibuat berdasarkan favorit -:sesuatu yang sampai hari ini belum perlu untuk dibuatkan aktenya.
Seharusnya ego menghentikan pemiliknya untuk mengejar pengakuan atau menyangkali kebenaran. Tapi menjadi bukan apa-apa dan siapa-siapa memang sama menyakitkannya seperti dipaksakan menjadi sesuatu dan seseorang.
Kebanyakan, akhir sebuah cerita ngga bisa membuat senang semua orang. Selalu akan ada yang harus mengorbankan perasaannya.
-jika aku terlahir kembali, aku ingin jadi anak kesayangan mama :)