Kamis, 05 Desember 2019

Blunder

Sempat ada kejadian yang sebenarnya (aku akui) itu adalah kesalahanku.
Seperti kebocoran dalam sebuah ban mobil, dan aku membuat lubangnya dengan besar, sehingga kmu harus berkorban untuk menambalnya.

I believe love needs some adjustment.
No, I don't call it as sacrifice.

Berkorban buatku artinya melakukan sesuatu dengan (sedikit) keterpaksaan.
Sementara penyesuaian adalah hal yang ingin aku lakukan dengan ikhlas.

Mungkin buat banyak orang, aku (akan) dianggap ga punya pendirian, plin plan dalam hal pengambilan keputusan.
Tapi bukankah semua pertemuan, semua kejadian, menjadi ada karena rencana-Nya dan bukan kebetulan semata?
Perkara "sepele" perasaan yang baik juga ga akan timbul tanpa campur tangan-Nya, bukan?
Atau, ada yang masih menganggap bahwa takdir adalah hal yang diada-adakan?

Aku memang ga butuh persetujuan siapa pun dengan kondisiku yang sekarang.
Tapi aku jelas butuh dukungan moral dan emosional.

Jadi maafkan aku, lupakan, dan jangan pernah lagi mengungkitnya.




Jakarta Aquarium w/ ur budget

Senin, 30 September 2019

Aku pernah pengen punya pacar tinggi,
tapi ga pengen kemana-mana pakai sepatu yang haknya tinggi.
Lalu Tuhan kasih aku suami yang pendek,
jadi aku bisa terus pakai sepatu teplek.
Tuhan ngertiin aku banget,
padahal aku orang yang banyak maunya.
Yang Dia kasih juga sesuai kebutuhanku,
bukan sesuai keinginanku
Sudahkah aku cukup bersyukur padamu Tuhan?
Kalau belum, ampuni aku. 
Kalau sekiranya sudah, beriku hati untuk lebih bersyukur lagi.
Engkau terlalu baik, Tuhan. 
Aku gatau harus bilang apa lagi selain “terima kasih”.



"Amam itu cantik pake apa aja" (Apap)

Jumat, 16 Agustus 2019

Mungkin kamu sering denger kalau jodoh itu adalah takdir.
Baru-baru ada seorang teman yang baru aja putus, padahal udah pacaran lama banget. Ada juga yang langsung bisa move on setelah patah hati kemudian menikah tanpa melalui umur pacaran yang lama.

Bukan sekedar niat dan usaha sih..
Bukan juga soal seberapa lama saling mengenal.. tapi memang sudah suratan-Nya.

Terus kenapa ada perceraian?
Karena Tuhan Maha Membolak-balikan Hati..

Ketika Dia bilang cukuplah sampai disini, artinya hanya sampai disitu mereka berjodoh
Sengotot-ngototnya manusia mau nikah atau mau mempertahankan pernikahan masih kalahlah dengan kehendak-Nya. Bukan sekedar pilihan, tapi takdir.
Mau dicegah atau dipaksakan segimanapun juga ya ga akan bisa.
Takdir mana bisa dilawan?

Yang bisa dilakukan adalah berdoa dan berharap ke pada-Nya
Semoga kelak mendapatkan jodoh yang lebih baik, yang berjodoh hingga ke Jannah. :)



2009-2019

Rabu, 26 Juni 2019

Sayangnya, pada akhirnya kita harus memilih mana yang lebih prioritas
Kadang kita harus menerima dengan ikhlas bahwa hidup berubah
Hubungan kita dengan beberapa orang ikut berubah
Ngga harus musuhan, tapi memang sudah selesai
Setidaknya, sejarah mencatat bahwa kita pernah saling peduli dan berjuang bersama


Berhenti bersedih B akuu :(

Selasa, 21 Mei 2019

I miss the way you called me dear..
I miss the way you said "kamu lucu banget sih"
I miss the way you said good night before I sleep
I miss the way the world seems like stop spinning when we're together
I miss our unfinished conversation.

I hope eventually will finish them all, even though I wish we wouldn't stop talking to each other.
Ever.
I miss you, but more than that.... I miss us.


Thought you're my someday, R

Rabu, 13 Maret 2019

Cukup Sudah

Karena minta untuk dimengerti itu lebih sulit, maka aku sering menurunkan harga hanya dengan ingin dimaklumi saja. 

Ternyata dimaklumi juga masih menyulitkan, maka harganya pun turun lagi dengan meminta untuk dibiarkan. 
Aku tidak akan bertanya, tidak mencoba untuk mencari tau, apalagi melarang.
Cukup sampai aku tidak perlu melihat hal-hal yang membuatku sedih, itu saja.

Sampai di titik itu, ternyata masih sulit.
Dan kali ini rasanya sungguh menyakitkan. Aku sampai di titik dimana aku sudah tidak sanggup lagi menahan sakitnya.

Lalu kuputuskan untuk berbalik sikap: menjauh, dan tidak lagi mengharap untuk dimengerti.

Tak apa, aku sudah mencoba memberimu yang terbaik dengan cara yang aku tau.
Jika harus berakhir sampai disini, setidaknya tidak ada penyesalan untukku.


Milk And Mocha Hugs GIF - MilkAndMocha Hugs BearCouple GIFs










*gonna miss this sticker 

Minggu, 17 Februari 2019




Katanya, obat kangen itu ketemu. 
Salah besar. 
Setelah ketemu malah sakit kangen akan makin parah. 
Seharusnya yang selalu saling kangen selalu bersama, baru bisa sembuh. 
Tapi jika tidak bisa saling, maka lebih baik tidak sama sekali.






Aku takut merindu

Selasa, 12 Februari 2019

Family Group Chat

Minggu kemarin papaku nanya apakah aku keberatan kalo di - add lagi ke grup WhatsApp keluarga. Aku menolak. Not because I am sombong atau gamau bergaul sama yang lain atau apapun itu. (Apalah akutuu, cuma remah-remah rempeyek diatas meja warteg) I have nothing to sombong about, anyway, but I get more selective. 
I am not interested to communicate in a regular basis with people I dont feel connected with (meski pun kami punya hubungan darah sekian persen) - mengingat aku pun bahkan tidak tumbuh besar bersama beliau (read: papa).
I am only close to 1-2 cousins, and the relationship I have with the rest of them is simply basa-basi. I am a bad basa-basier.
Sebegitunya aku mem-filter pergaulanku, online and offline. Dengan teman, mau pun keluarga. I have no energy to cater any drama (kuperkirakan itu pasti terjadi, cepat atau lambat), apalagi family drama.
So don't give me wrong dad...  




Papa yg sudah naik pangkat jadi Opa

Minggu, 03 Februari 2019

Untitled




Mungkin memang tidak semua rasa harus diberi nama, karena rasa itu bukan manusia atau jalan yang memang harus diberi nama agar tidak salah sebut, tidak salah tujuan.

Dan rasa itu memang terlalu rumit untuk diberi nama. Seperti cinta, misalnya. Setiap orang punya pengertiannya sendiri tentang cinta. 

Semuanya benar, semuanya salah - tergantung siapa yang mengatakan, apa latar belakang orang itu, dan dari sudut pandang yang mana.

Juga rasa ini. Atau rasa yang itu.

Lalu ada kalanya kita memberi nama suatu rasa, dan ternyata kita memberi nama yang salah. Karena ada rasa yang dapat dirasakan sendiri, dan ada rasa yang sebaiknya dirasakan oleh dua orang. Dan yang terakhir itu kadang diberi nama yang berbeda oleh keduanya. Yang satu bisa saja menamakannya “cinta”, tapi yang satu lagi mungkin hanya memberinya nama “suka”. Atau yang satu memberinya nama “nyaman”, yang satu lagi memberi nama “kesepian”.

Kurang lebih seperti itu.

Jadi, apalah arti sebuah nama jika hanya untuk memberi label ke sebuah rasa yang diartikan berbeda-beda oleh pihak yang merasakannya? Atau bahkan oleh pihak yang bahkan tidak pernah memikirkan tentang rasa itu sendiri?

Ini memang rumit. Tidak semudah seperti menghilangkan komedo di hidungmu, walaupun keduanya sama-sama mengeluarkan air mata.


Bila memang, ku yang harus mengerti:
Mengapa cintamu tak dapat ku miliki?
Salahkah ku bila:
Kau lah yang ada di hatiku?

Jumat, 25 Januari 2019

Dearest

Pengakuan ternyata jadi salah satu hal yang sulit didapatkan, selain ketulusan. Bukan hanya soal status, tapi banyak hal lainnya yang bersinggungan dengan nurani yang tidak mungkin bisa dipaksakan. Bukti di atas kertas memang bukti otentik, tapi pengakuan terdalam tidak selalu tercetak rapi di atas kertas.

Yang tahu apa dan siapa yang kita akui hanya nurani, dan yang bisa membaca nurani hanya Tuhan. Ada sebuah ruang rahasia yang tidak bisa dimasuki oleh apa dan siapa pun, kecuali nurani kita dan Tuhan.

Dan biasanya, “pemilihan” itu dibuat berdasarkan favorit -:sesuatu yang sampai hari ini belum perlu untuk dibuatkan aktenya.

Seharusnya ego menghentikan pemiliknya untuk mengejar pengakuan atau menyangkali kebenaran. Tapi menjadi bukan apa-apa dan siapa-siapa memang sama menyakitkannya seperti dipaksakan menjadi sesuatu dan seseorang.

Kebanyakan, akhir sebuah cerita ngga bisa membuat senang semua orang. Selalu akan ada yang harus mengorbankan perasaannya.






-jika aku terlahir kembali, aku ingin jadi anak kesayangan mama :) 

Bersembunyi

Ada yang saling kita sembunyikan. Kamu menyembunyikan aku di dalammu, dan aku menyembunyikan kamu di dalamku.
Dan kita terlalu pengecut untuk mengakuinya, terlalu tak tega menyakiti orang lain, terlalu takut untuk merusak tatanan.
Kita berpura-pura kita tetap baik-baik saja, bahagia-bahagia saja, meski ada lubang yang semakin lama semakin dalam di kehidupan kita.


-saat makan di satu meja yg sama kami mulai hening, tanpa cerita-